Tentang Riset dan Apa yang Bisa Diperbaiki di Indonesia

https://pixabay.com/
Kemarin tetiba muncul celetukan tentang Indonesia dari pembimbing saya yang memang sudah terbiasa ke Indonesia.

Katanya, “Indonesia itu fasilitas riset nya bagus. Lihat lab nya, lebih besar dari lab kita disini, tapi anehnya keluaran hasil risetnya rendah sekali”.

Ini benar. Banyak kampus Indonesia punya ruang lab yang besar. Beberapa punya fasilitas cukup bagus. Setidaknya gedungnya cantik. Tapi, output riset rendah.

Kesimpulan saya sederhana, budaya dan manajemen yang amburadul. Berikut jabaran lebih lengkap tambahan cerita saya beberapa waktu lalu. Mari kita bandingkan dengan sistem di Amerika ini.

Bagi kita arti adil itu sama rata bagi siapa saja. Peluang yang rajin dan yang malas untuk diterima di institusi riset maupun kampus di Indonesia itu sama.

Disini beda. Kalau portfolio risetnya kurang ga bakal diterima. Kampus punya kebebasan memilih siapa yang akan diterima. Jumlah publikasi dan kesesuaian dengan kebutuhan kampus jadi syarat mutlak.

Syarat ini juga mendorong mahasiswa disini giat meneliti. Kalau misalnya sudah tahun empat PhD tapi belum banyak publikasi, mereka mulai resah karena takut ga mampu mendapatkan pekerjaan. Jadi efek domino sampai ke generasi penerus.

Di kita juga ada efek dominonya. Banyak mahasiswa jadi nyantai-nyantai aja. Main game di lab. Toh, dapat kerjaan itu kadang lebih banyak untung-untungannya.

Tiga bulan yang lalu kampus saya disini membuka lowongan posisi dosen. Satu bulan pendaftaran ditutup. Dua bulan kemudian sudah keluar hasil empat besar yang lolos untuk seleksi selanjutnya.

Mereka butuh orang yang punya fokus riset di burung dan punya keahlian lapangan. Dari empat nama yang diumumkan semuanya punya keahlian burung dan orang lapangan. Tidak ada yang nyusup punya keahlian tikus yang lolos seleksi tahap pertama. Walaupun yang mendaftar beragam karena disini banyak juga yang aji mumpung.

Bayangkan di kita. Mana bisa. Terkadang yang lolos seleksi justru yang aji mumpung. Menteri bahkan sampai mengeluh hasil tes CPNS yang lalu, TKD banyak yang tidak mencapai passing grade. Orang mau riset STEM ditanya undang-undang. Ya susah.

Disini seleksinya tahap awal seleksi berkas. Semua sejarah riset nya dilihat. Dukungan surat rekomendasi juga dipelajari. Yang lulus kemudian diundang presentasi di kampus di depan civitas akademika. Jadi benar-benar dilihat kemampuan presentasi dan kualitas riset dia. Kemudian wawancara dengan panitia seleksi. Yang lulus langsung jadi dosen.

Ketika jadi dosen, 5 tahun pertama sangat krusial. Harus publikasi setiap tahun. Harus bisa dapat dana riset besar. Jadi mereka yang diterima memang orang-orang yang bisa independen mengelola riset, termasuk bagaimana mendapatkan dana riset. Dosen muda ini diberi kebebasan mengeksplor riset nya.

Jadi walaupun lab kecil, tapi termanfaatkan dengan baik. Ketika jadi dosen senior, kebiasaan risetnya terus terbawa.

Di kita dosen muda biasanya jadi pekerja rodi. Banyak ditimpali urusan administrasi. Padahal sedang mengebu-gebu untuk meneliti. Jadi energinya habis terbuang di depan Microsoft Excel, yang seharusnya dihabiskan di depan R Studio.

Disini, setelah 5 tahun jadi dosen akan dievaluasi lagi. Kalau ga riset dengan baik dan ga dapat dana riset besar, siap-siap dipecat. Disini ada satu dosen yang dipecat kampus Desember kemarin karena gagal dapat dana riset besar, walaupun risetnya termasuk bagus.

Di kita...? Ahh sudahlah...

Saya ceritakan ini hanya untuk membantu membuka mata kita semua. Walaupun sebenarnya sudah banyak juga yang tahu, tapi tak bisa sebebas saya berbicara. Tujuannya agar kita bisa berpikir untuk perbaikan.

Pemerintah selalu membandingkan-bandingkan jumlah publikasi Indonesia dengan negara lain. Yang mereka tidak sadari mereka sebenarnya tidak membandingkan jeruk dengan orange, tapi jeruk dengan mangga golek, asam jawa, dan jambu biji. Tak perlu ahli taksonomi untuk tahu itu bukan spesies yang sama.

Itulah gunanya juga jauh-jauh kesini untuk selalu ada pesan yang tersampaikan pulang. Ga hanya foto-foto Amerika. Syukur-syukur dibaca. Jadi kita bisa belajar dari negara lain. Itu jalan untuk menjadi lebih baik.

Ga mungkin bangsa ini maju dengan usaha sendiri. Itu hanya jualan politik. Jangan terlalu diambil hati; pelajari aja jualan mereka yang lain.

Bangsa barat maju karena belajar dari masa kejayaan Islam. Islam waktu itu jaya belajar dari Yunani. Tak ada yang maju tanpa belajar dari orang lain.

Tentunya semuanya butuh proses. Yang kita butuhkan sekarang bagaimana memutus mata rantai agar dogma-dogma zaman orde baru yang sekarang ini jadi budaya institusi di Indonesia tidak diteruskan ke generasi penerus.
Tentang Riset dan Apa yang Bisa Diperbaiki di Indonesia Tentang Riset dan Apa yang Bisa Diperbaiki di Indonesia Reviewed by Unknown on Januari 08, 2019 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.