Penerimaan Pegawai Negeri dan Efektitasnya

GoodFreePhotos
Ternyata memang menarik membahas carut-marut pendidikan kita. Ibaratnya, bibit asam berharap buah manis. Ini hanya penyederhanaan bahwa ekspektasi tinggi, tapi tidak dibarengi dengan dukungan yang memadai.

Saat ini, penerimaan dosen/peneliti tak ada bedanya dengan PNS biasa. Sementara tuntutan tidak sama. Dosen/peneliti dituntut publikasi yang memerlukan keahlian khusus. Sistem ini memungkinkan orang yang tidak mempunyai keahlian yang dibutuhkan diterima. Sebaliknya, mereka yang mempunyai keahlian dibutuhkan malah terabaikan.

Bagi yang aktif di kampus-kampus Indonesia, pasti mengetahui, banyak anak bangsa ini yang ahli, punya gelar S3, punya pengalaman publikasi, trek rekor riset bagus, diinginkan kampus, tapi gagal diterima karena mereka tak hafal undang-undang dan sejarah bangsa ini. Hanya dengan jumlah sampel yang sedikit, saya pribadi bisa sebutkan beberapa nama kalau mau. Padahal kalau pemerintah menginginkan rasa nasionalisme, sebenarnya bisa diterapkan pemahaman kebangsaan pada masa pendidikan pra-jabatan. Ini mungkin lebih dibandingkan lewat tes, yang kebanyakan hanya berdasarkan hafalan.

Kemampuan meneliti dan publikasi tak bisa dipelajari secara instan. Memasukkan mereka yang punya keahlian ke lingkungan kampus juga dapat membantu dosen lama yang masih terperangkap budaya orde baru.

Siapa yang bisa menjamin yang hafal undang-undang bisa publikasi? Siapa yang bisa menjamin mereka punya nasionalisme tinggi? Jika memang itu yang dituntut dari hafalan undang-undang. Pada akhirnya menghalalkan segala cara demi mengejar tuntutan publikasi.

Sistem yang ada sekarang juga merupakan biang kerok bahwa mendapatkan pekerjaan di sektor publik di Indonesia lebih banyak faktor untung-untungannya.

Selain sistem penerimaan, fasilitasnya juga ala kadarnya. Jangankan fasilitas lab, banyak dosen/peneliti di Indonesia masih berkutat dengan Microsoft Office bajakan, yang toolbar nya menjadi warna merah ketika dibuka. Padahal jurnal berkualitas sekarang menuntut komputasi tingkat tinggi, terutama di sains. Sementara word processor berkualitas saja tak terpenuhi.

Kalau saya pikir-pikir, jadi dosen/peneliti di Indonesia itu jauh lebih sulit dari di Amerika Serikat sini. Terutama dosen, tuntutan sama meneliti, publikasi dan mengajar. Malah di Indonesia tuntutan mengajar banyak. Pembimbing saya cuma satu kelas dalam setahun. Mahasiswa tidak sampai 20 orang.

Mahasiswa miskin seperti saya saja difasilitasi software berbayar secara gratis, dan berbagai perangkat keras berharga puluhan juta, apalagi dosen disini.

Kita di Indonesia bukan nya tidak punya duit. Tapi? Makanya, kalau kampanye presiden masih sibuk mengurus harga sayur, saya tak menaruh harapan. Karena bagi saya tak lebih hanya mengekploitasi rakyat miskin demi kekuasaan. Perbaiki sistem pendidikan kita dan sains yang menyertainya. Jangankan harga sayur, kualitas sayur pun akan mampu diperbaiki.
Penerimaan Pegawai Negeri dan Efektitasnya Penerimaan Pegawai Negeri dan Efektitasnya Reviewed by heru handika on Januari 08, 2019 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.