Cerita yang Tersembunyi dari Penemuan Tikus Hidung Babi (Hog-Nose)

Hog-Nose Rats Photo by K. Rowe
Hog-Nose Rat. Photo by K. Rowe
“Hi Heru, our next Sulawesi Trip is planned on February 23rd, 2013, are you available?”

Kira-kira begitulah e-mail Jake pada bulan October 2012. Tanpa berpikir panjang, saya jawab:

“Hi Bang, I will be available. Let me know the detail when the time approaching”

Saya nyaris melewatkan wisuda karena fieldwork ini. Saya sempat mengutarakan akan lebih memilih fieldwork jika jadwalnya sebelum wisuda saya. Namun, Jake berbaik hati memberi saya kesempatan wisuda, dan menyusul ke Palu malam hari di hari wisuda saya. 

Saya memang tak menikmati wisuda waktu itu. Di saat yang lain memikirkan perlengkapan untuk wisuda, saya memikirkan perlengkapan ke lapangan. Ketika yang lain masih sempat berlama-lama di tempat wisuda, saya segera pulang dan kemudian menuju bandara. 

Ketika fieldwork, masalah datang silih berganti. Begitu lah fieldwork. Tak pernah smooth. Itulah kenapa saya suka. Banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan disini. Di sisi lain, skill saya meningkat karena belajar langsung dengan prakteknya. 

Pada trip kali ini, karena terlalu banyak mammmalogist, camp nya dibagi menjadi dua. Saya dan Jim Patton (Profesor dari U.C, Barkeley) di Camp Pertama (pada ketinggian 500 mdpl). Mas Anang, Jake, dan Kevin di Camp Kedua (pada ketinggian sekitar 1500 mdpl). 

Pada kondisi seperti ini, saya biasanya ditempatkan di camp kedua. Namun, saya ditempatkan di camp pertama agar bisa belajar bersama Jim. Di antara ahli mammalia, Jim memang sudah terkenal keahliannya. Jim tak mungkin di Camp kedua, karena umurnya pada saat itu sudah 76 tahun dan bersama istrinya yang sudah berumur 74 tahun.

Masalah pertama, datang di hari pertama saat akan menuju lokasi camp. Masyarakat yang sebelumnya sudah setuju mengenai lokasi camp, tiba-tiba menyatakan camp kedua tidak bisa digunakan untuk camp. Menurut mereka, lokasi tersebut tidak ada air. Hanya ada bakau di atas. Bagi saya, ini tidak masuk akal.

Camp kedua ini memang tidak pernah di survei, karena jaraknya terlalu jauh. Kami yang sudah siap-siap berangkat akhirnya menunda keberangkatan. Jake dan Kevin berpikir untuk survei dulu lokasi camp atas. Sementara yang lain tetap lanjut menuju camp bawah. 

"Adik, do you want to join with me?", Kevin mengajak saya untuk ikut. 

Untuk tugas-tugas seperti ini, biasanya memang saya yang dilibatkan. Jika tidak saya sendiri dengan guide, maka saya dengan Kevin dan Jake, tentunya kami juga membawa guide. 

Kali ini saya, Jake, dan Kevin bersama dua orang guide akan mensurvei lokasi camp atas. 

Seperti biasa, saya akan jawab, "Okay. I am ready, bang". 

Saya memang jarang menolak. Saya ingin belajar banyak dengan mereka. Semangat dan dedikasi mereka untuk sains, menjadi inspirasi bagi saya. 

Perjalanan mensurvei camp atas memang sulit. Kami harus menempuh jalan sepanjang sungai yang berbatu. Terkadang kami harus menyeberangi sungai tersebut. Pada beberapa tempat airnya lumayan deras, tipikal kebanyakan sungai di Sulawesi. Butuh dua hari bagi kami untuk sampai Camp Atas. Untungnya jalannya melewati Camp Pertama, sehingga kami bisa menginap di Camp Pertama dulu. 

Namun, perjalanan terberat dari Camp Pertama menuju lokasi Camp Kedua. Jalannya menanjak melewati punggungan. Rotan sepanjang jalan. Kata guide yang ikut bersama kami, jalan ini memang jarang dilalui orang. 

Ada kebahagiaan ketika kami ternyata menemukan sungai dan lokasi yang bisa digunakan untuk camp. Lokasi ini sesuai dengan lokasi yang kami perkirakan sebagai Camp Kedua. 


E-mail Ajakan Jake untuk Ikut Fieldwork






Jake, Kevin, dan Mas Anang sudah seperti abang bagi saya. Mereka menempatkan saya di posisi agar saya bisa belajar lebih banyak. Dengan berada di camp bawah, saya tak perlu kuliah ke U.C, Berkeley untuk merasakan pendidikan dari universitas top dunia tersebut. 

Malang bagi kami. Karena camp atas tidak kami survei sebelumnya. Sesampai di kampung masyarakat berubah pikiran. Katanya camp atas tidak ada sumber air. Namun, kami percaya, pasti ada. Lewat GoogleEarth, kami bisa lihat lembah yang kemungkinan dialiri sungai dan tempat cukup datar untuk camp. 

Tempat yang kami tuju memang merupakan lokasi yang jarang terjamah manusia. Kampung tempat kami bertemu masyarakat pun, sebenarnya juga sudah sangat pelosok. Tidak banyak masyarakat yang sampai ke lokasi yang akan kami tuju.

Beberapa dari kami pun memutuskan untuk menuju lokasi camp atas untuk memastikan atau mencari lokasi lain yang bisa dijadikan camp. Saya yang sudah siap untuk berada di camp bawah, berganti menjadi naik bersama Jake dan Kevin untuk survei lokasi camp atas. Mas Anang dan anggota tim yang lain menuju camp pertama. 
Antara wisuda dan tidak
Untuk melakukan survei, kami berangkat bersama 2 orang masyarakat lokal. Kami harus berjalan menuju camp bawah dulu. Menyusuri sungai berbatu. Alirannya deras. Kami mulai mengkhawatirkan James dan isterinya. Jim, begitu dia sering dipanggil, masih terlihat sangat kuat. Walaupun sudah berumur 76 tahun. Tapi, istrinya sangat membutuhkan pendampingan. Namun, Mas Anang dan beberapa anggota tim yang lain sudah sedari awal berencana mendampingi beliau dan istri. 

Kevin, Jake dan saya bersama 2 masyarakat lokal mencoba berjalan cepat berharap bisa langsung menuju lokasi camp atas. Namun, ternyata kami hanya bisa sampai lokasi camp pertama, yang memang sudah di survei Kevin dan Mas Anang. Hari sudah cukup sore. Kami memutuskan hanya sampai camp pertama dulu dan melanjutkan survei esok hari. 

Istirahat bebarapa saat. Bersama satu orang masyarakat lokal, saya kembali menyusul James, Mas Anang, dan tim yang lain yang belum juga sampai. Mungkin mereka membutuhkan bantuan untuk mendampingi Jim dan istri. Kami pun bertemu mereka tak cukup jauh dari camp. Kemudian bersama menuju lokasi camp bawah dan kemudian menginap di camp tersebut bersama-sama.
***
Cuaca pun cukup cerah pagi hari berikutnya. Saya, Jake, dan Kevin bersama dua masyarakat lokal melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang jarang terjamah manusia itu. Namun, kami percaya masyarakat lokal punya insting yang bagus di hutan. Kevin juga membawa GPS bersamanya. Masing-masing kami membawa perlengkapan pribadi. Masyarakat membantu membawa perbekalan untuk 1-3 hari.

Kami menyeberangi sungai. Waktu itu cukup dangkal. Tapi berbatu. Kemudian perjalanan menanjak menyusuri punggungan bukit yang kiri kanannya terjal. Kami masih menemukan jalan setapak. Tapi terkadang tertutup semak, bukti jalur ini jarang dilalui. 

Rotan di sepanjang jalan. Terkadang durinya menjamah tangan saya. Saya memang tak pernah mulus setiap pulang di lapangan. Ada saja yang terluka. Begitulah perjuangan. Pacet sepanjang jalan. Sepertinya riang gembira mendapat donor darah baru.

Beberapa jam berjalan. Kami menemukan sungai. Cukup besar. Sekitar 5 meter lebarnya. Berbatu. Besar-besar. Tipikal sungai Sulawesi. Kali ini airnya lebih kecil dari sungai dekat camp bawah. Karena kami semakin ke hulu. 

Kami memutuskan menyusurinya. Berharap ada tempat bagus di ketinggian yang kemungkinan bisa digunakan untuk camp. Jalan setapak pun hilang. Kami berkali-kali istirahat di jalan. Karena rasa lelah yang tak bisa kami bohongi. 

Setelah makan siang di pinggir sungai. Melihat lokasi sekeliling sungai yang terjal dan tak memungkinkan menemukan camp, kami memutuskan jalan menanjak lagi. Memanjat punggungan bukit yang cukup terjal. Saya terkadang harus meraih pohon-pohon di sekitar untuk bisa terus naik ke puncak punggungan itu. 

Kami pun sampai di puncak. Sekelilingnya lembah. Berkeyakinan kami bisa menemukan sumber air di sekitar. Ketinggian pun sudah sesuai dengan yang kami harapkan dan berada tidak jauh dari lokasi yang kami perkirakan. 

Masyarakat lokal turun menyusuri salah satu lembah, berbeda dengan yang kami naiki dan tidak terjal. Kevin, Jake, dan saya bertahan di atas untuk mensurvei lokasi pemasangan perangkap, seandainya tempat tersebut memungkinkan untuk camp. 

Masyarakat pun kembali dengan membawa berita ada sungai kecil dibawah dan juga tempat cukup datar. Waktu itu sudah sekitar pukul 4 sore. Kami pun memutuskan untuk menginap. Guide kami mendirikan tenda dengan menggunakan terpal dengan tiang-tiang kayu. Masyarakat biasanya suka tenda seperti ini. 

Saya memang membawa tenda dari bawah untuk kami gunakan bertiga. Bule biasanya senang tenda sendiri. Tapi, mereka sudah seperti setengah Asia. 

Tenda berdiri. Kevin dan Jake yang terlihat sangat lelah, langsung masuk tenda. Mereka pun tertidur. Saya lebih memilih duduk bersama masyarakat lokal —walapun sebenarnya sudah penat juga. 

Saya memang selalu berusaha untuk mengobrol dengan masyarakat lokal. Banyak pelajaran bisa saya petik dari mereka. Tentang kehidupan, tentang perjuangan. Ada sisi dimana saya merasa lebih beruntung dari mereka, mendapatkan pendidikan yang lebih baik, dan bisa berkelana kesana kemari. Ada sisi dimana saya iri dengan mereka, tidak semua orang bisa menajalani hidup demikian. Mereka berkerja keras setiap hari dalam keterbatasan. Berjuang agar anak istri mereka bisa makan. 

Inilah fieldwork. Tempat saya belajar banyak hal. Menghadapi betapa menantangnya keadaan. Berkomunikasi dengan beragam masyarakat dari berbagai tingkat pendidikan. Mempelajari budaya Indonesia yang berbeda-beda. Saya percaya Indonesia itu kaya karena fieldwork. 

Dan fieldwork takkan pernah berjalan mulus. Selalu ada tantangan. Banyak rencana terkadang tak berjalan seperti yang diharapkan. Ada kalanya, harus ada hal yang harus kita korbankan. Mengarjakan saya banyak hal tentang kesabaran. Memahami arti dari sebuah perjuangan.

Saya sampai ke Sulawesi dengan meninggalkan kenikmatan sebagai seorang yang baru resmi jadi sarjana. Berada di tengah hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Alih-alih dapat sinyal handphone, bisa nyambung ngomong dengan masyarakat saja sudah merupakan suatu kebahagiaan. Bahasa mereka jauh berbeda dari daerah saya tinggal di Sumatera, menjadi tantangan tersendiri.

Senja waktu itu cuaca tak seperti diharapkan. Hujan turun lebat. Saya yang dari tadi bercerita dengan guide kami, melihat cahaya headlamp dari lokasi tenda tempat Kevin dan Jake tidur. Bunyi krasak-krusuk. Saya tahu mereka sudah bangun. Tapi pasti ada yang tidak beres. 

Karena hujan dan dingin. Saya hanya melihat dari jarak sekitar 6 meter. Kevin dan Jake pun keluar dan menuju ke arah saya. Benar saja. Tenda kami bocor. Air hujan masuk membasahi mereka. 
Saya dan Jake sewaktu survei camp atas. Selalu ada tawa diperjalan, apa pun keadaan. Photo: K. Rowe
Ketika akan berangkat, masyarakat lokal ngotot mengatakan di atas tidak ada air. Mangrove saja. Tidak make sense bagi saya. Kini kami kebanjiran. Hujan sangat deras. Air pun mengaliri tenda tempat saya dari tadi duduk. 

Saya pun duduk di atas dua potong kayu, bertiga Kevin dan Jake. Masyarakat lokal duduk di tempat yang agak kering. Kami semua berada di bawah tenda terpal. Menahan dingin malam di gunung yang semakin menusuk. Saya tak bisa menahan gemetar sekujur badan. Walaupun berusaha tetap kering. Percikan air lama-lama mebasahi. Begitu hingga sekitar pukul 1 malam. 

Saya bisa pastikan Kevin dan Jake sudah sangat lelah. Masyarakat lokal sudah seperti tertidur bersandar pada tiang tenda. Saya memutuskan menuju tenda dan memastikan apa yang terjadi di dalamnya. 

Di tenda, saya pun mencoba mengeringkan bebarapa bagian. Air yang melewati bagian bawah tenda, saya coba arahkan ke arah lain. Namanya juga tenda sudah berumur, kebocaran bukanlah masalah baru. Biasanya selalu berada di bawah terpal dan digali sekitarnya untuk mencagah air masuk tenda. Tapi kali ini tidak. Karena rencana tak berjalan semestinya. Tanpa persiapan yang matang untuk pergi survei.

Dalam menahan dingin, saya teringat ketika hilang arah dalam perjalanan menuju Gunung Danau Laut Tinggal. Waktu itu bersama-sama teman-teman kampus. Kami hanya tidur bersandarkan pohon tumbang. Pacet sudah selilit pinggang. Sebagian sudah sebesar telunjuk. Saya biarkan saja. Mungkin itu lagi rejeki meraka. Karena saya sudah lelah.

Saya memanggil Kevin dan Jake, “This is not bad, bang. I can sleep here”. 

Mereka berdua memang saya panggil Bang. Karena sudah saya anggap seperti Abang saya. 

Mereka datang menghampiri saya dan ikut masuk ke tenda. 

Saya berbohong. Saya tidak bisa tidur malam itu. Terlalu dingin. Ukuran yang tidak sebanding, terkadang membuat saya terdesak ke arah paling sudut. Saya baru tahu, ternyata Kevin yang tidur di sebelah saya mencoba mengelakkan air yang menetes dari celah tenda. Di ujung satunya Jake terdengar mendengkur. Kemudian diam dan terbangun karena kaki dibasahi air.

Besoknya saya turun lagi ke bawah bersama satu orang guide. Kevin, Jake, dan satu orang guide lainnya bertahan di atas menunggu tim lain membawa semua perlengkapan. 

Sebelum turun Jake berpesan, “If Anang want to stay in lower camp, you can stay in upper camp with us”. 

Dia tahu saya senang di camp atas. Dia tahu sulitnya jalan menuju camp kedua. Mungkin saya yang jauh lebih muda lebih baik kembali. 

Saya juga tidak mungkin tetap bertahan di atas, dan menyerahkan ke guide untuk menyampaikan pesan ke Mas Anang dan tim lain di bawah. Kami takut miss komunikasi. Dengan terkantuk, saya berjalan kembali menyusuri jalan yang sama. Saya terkadang nyaris tertidur di jalan, sewaktu kami istirahat.

Sampai di camp bawah, dengan senyum sumbringah, saya sampaikan berita bahagia ke tim yang sudah menunggu. Mas Anang pun mau naik ke camp atas dan memberi kesempatan bagi saya untuk belajar bersama Jim. 

Saya kehilangan momen untuk melihat tikus hidung babi itu ketika baru tertangkap trap yang kami pasang. Saya tak dapat kesempatan melihat fresh specimen-nya. Yang saya tahu, ketika sampai di Tolitoli, mereka mendapatkan tikus dengan hidung mirip babi di camp atas. Kevin melihatkan yang sudah dipreservasi ke saya. Kami percaya itu genus baru. Cerita excitement camp atas diceritakan Mas Anang di Kompas

Saya yang dibawah harus berpindah ke lokasi kedua lebih dekat ke kampung. Karena tak banyak mendapat tikus. Camp kedua pun nyaris kebanjiran. Hujan tiada henti di hari itu. Tidak seperti hari lainnya selama lebih 3 minggu kami di camp. 

Bersama James, saya banyak belajar. Saya mulai mengusai teknik taksidermi mamalia kecil. Skill yang wajib dikuasi jika ingin menjadi mammalogist. Bahkan mamalia yang paling kecil sekali pun, seperti kelelawar kecil dan cucurut. Tanpa berada di fieldwork bersama Jim, saya mungkin belum pede untuk tampil dihadapan ratusan orang yang hadir di acara SmartBar di Museum Victoria tempat saya sekarang penelitian. Men-skinning kelelawar seukuran jempol kaki, saya pun banyak mendapat respon positif dari pengunjung. 

Berada bersama Jim saya banyak belajar tentang tikus. Belajar tentang kesederhaan Jim. Keahliannya tentang tikus, maupun mamalia secara umum tidak diragukan lagi. Dia juga satu-satunya orang yang saya kenal tidak mau liburan tanpa membawa field note dan perlengkapan menangkap tikusnya. Bahkan ada yang bersedia membayarkan dia untuk liburan, dengan syarat dia tidak boleh membawa perlengkap menangkap tikus. Tapi, dia tidak mau. 

Jim bergabung dengan kami pun, atas kemauannya sendiri. Membayar sendiri dengan duit pribadi biaya perjalanan dia. Liburan baginya adalah fieldwork. Dedikasinya untuk science sangat menginspirasi saya. Saya membatin selama di lapangan, berdo’a Indonesia bisa punya orang seperti dia. 

Kini penemuan genus baru sudah di publikasi. Nama Hyorhinomys stuempkei. Menjadi popular. Saat artikel ini ditulis, saya coba searching di google, tiga halaman hasil pencarian berisi berita tentang Hog-Nose. Hasil dari semua perjuagan dan pengorbanan kami. 

Terkadang spesies baru bisa ditemukan di museum. Tapi, pada banyak keadaan, banyak perjuangan yang harus dijalani. Begitulah menjadi peneliti. Tapi, mungkin inilah jalan kami meninggalkan jejak kehidupan.

Saya banyak belajar disini. Beruntung punya orang-orang yang berdedikasi tinggi untuk science. Punya mereka yang memfasilitasi rasa ingin tahu saya. Tidak hanya di fieldwork. Dalam penulisan paper tersebut saya belajar banyak hal. Kami yang dari Indonesia, tidak hanya ikut fieldwork, dan kemudian numpang nama di publikasi. Tapi, bersama-sama ikut berkontribusi untuk penulisan paper. Sebuah bentuk kolaborasi yang luar biasa bagi saya. Saya beruntung bisa menjadi bagian darinya. 





Cerita yang Tersembunyi dari Penemuan Tikus Hidung Babi (Hog-Nose) Cerita yang Tersembunyi dari Penemuan Tikus Hidung Babi (Hog-Nose) Reviewed by heru handika on Oktober 06, 2015 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.